Rabu, 04 Juni 2008

Untuk Kau

Aku hanya berdiri menepi di jalan ini
menguak misteri tersimpang
Pernah dulu, aku berkata :
di langit sana ada hati yang menyepi
beku dari es yang mengembun saat pagi

Angin menghilir dari selatan
membawa senyum kembang matahari
Aku lalu terhempas, jatuh ke peluk bidadari

Dingin merengkuh segenap jiwa
di sepi terdalam
Aku yang terbatas berkata :

Engkau bagaikan manik-manik berkilauan
di dasar danau bening

Suci jiwaMu
anggun rupaMu.....

Engku meruak di jiwa
dalam rasa

UntukMu tak tersentuh,
tak dapat dilukis perupa.............

Tidak ada komentar: