Zaman boleh berubah, tapi aroma kopi tak pernah lekang. Warung kopi yang tumbuh subur tidak sekadar jadi tempat obrolan. Lebih dari itu, warkop merupakan rumah inspirasi, karena selain melepas penat, juga ide-ide segar bisa lahir di tempat ini. Warkop juga menjadi bursa informasi, karena sambil menyerumput kenikmatan kopi, berbagai informasi mulai dari kabar burung, analisa politik, sampai rahasia orang bisa dibincangkan.
Istilah warung kopi (warkop) bukannya baru didengar. Semenjak dahulu, tempat kongkow yang satu ini telah populer. Selain untuk menikmati kopi, dulu, menjadi tempat obrolan yang asyik. Apalagi pada malam hari. Maka tak heran jika muncul istilah; tak lengkap rasanya, secangkir kopi tanpa ditemani pisang goreng dan lantunan irama musik dangdut.
Entah, di zaman sekarang. Istilah apalagi yang muncul untuk mengungkapkan kenyamanan kongkow di warkop. Pastinya, saat ini, lantunan lagu dan menu yang menyuasanainya tak melulu dangdutan dan pisang goreng. Bahkan, seiring dengan pikuknya kehidupan modern di kota, kesan itu perlahan berubah.
Selain menawarkan candu kopi, sejumlah pemilik warkop di Kota Makassar juga menawarkan suasana. Agar sejalan dengan karakteristik masyarakat kota yang modern, dalam hal ini, konsep warkop didesain lebih elegan dan modern pula.
Malahan, ada yang menggeser warkop ke dalam konsep kafe. Ini lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan di kalangan menengah ke atas saja. Bahkan ada yang lebih diarahkan untuk kalangan eksekutif. Sangat ekslusif, baik dari tawaran tempat maupun standar pelayanannya. Boleh dibilang, konsep ini lebih berstandar gaya hidup. Karena harganya cukup ’mengigit’.
Namun demikian, apapun segmentasinya, konsep warkop tak pernah jauh dari cita rasa dan obrolan. Di Kota Makassar sendiri, setiap warkop memiliki daya tarik pada dua sisi ini. Menawarkan cita rasa, atau suasana.
Rabu, 04 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar