Rabu, 04 Juni 2008

Optimis

Dulu, ketika di kampus, saya kadang memikirkan. Kok bisa ya, saya anak desa ini, yang di masa-masa kecilnya waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membantu orang tua di sawah dan di ladang, tiba-tiba bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Terlebih, dalam pikiran masyarakat tanah bugis, universitas tersebut termasuk ternama di di jazirah sulawesi.

Saat, mulai mengenal tetek bengek kampus, kemudian mulai aktif kuliah, bergelut di lembaga kemahasiswaan, bergaul di komunitas-komunitas pergerakan kampus, telah bergumul dengan pemikiran para pakar sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama, dari fase antroposentrisme, renaissance, hingga postmodern. Dari Socrates, Manifesto Komunis Karl Marx, Paulo Freire, tentang Teologi pembebasan dunia pendidikan, Ali Saryati, Averroes atau Ibnu Rusyd, Syaikh Muhammad At-tamimi dalam Kitab Tauhid, dan banyak lagi.(Cieeeee, mahasiswa nu lawan, hehehehe). Pikiran tentang, kok bisa ya, saya kuliah di universitas negeri tetap saja membelit dalam benak.

Bahkan, hingga beberapa saat tak lagi aktif kampus, pertanyaan sama masih terbesit dalam hati kecilku. Kok, saya yang mahasiswa kacangan dari kampus ini, tiba-tiba bisa bergaul dengan j’’’’’’j’’’’’kelas senior di Makassar. Dalam setiap kali saya memasuki lingkungan baru dalam pergaulan sosial, selalu saja muncul pertanyaan-pertanyaan sama.

Latar kehidupan sebagai anak petani, lahir di tengah keluarga sederhana, acapkali membuat diri saya minder pada lingkungan sosial dimana saya bergaul. Termasuk saat kuliah dulu. Saya di mata teman-teman, adalah sosok pemalu, dan kurang percaya diri.

Namun, setelah menyaksikan seabrek kenyataan hidup, kini pada akhirnya rasa itu pupus. Saya teringat seorang mantan presiden India, Abdul Kamal, saya teringat sosok salah satu presiden di Indonesia yang pernah berkuasa selama 25 tahun, Soeharto. Saya teringat banyak pemikir-pemikir dunia, saya teringat banyak tokoh-tokoh humanis dunia, saya teringat teringat kisah-kisah para nabi yang kerap diceritakan ibu/bapak guruku sewaktu SMU dulu, saya teringat sosok Nabi Muhammad, dan sebagainya. Mereka lahir dari desa-desa, pernah merasakan hidup di latar panggung kehidupan para pengembala, petani, peladang dan sebagainya.

Sebagian besar diantara tokoh-tokoh besar itu tak sekadar jadi penyaksi, tapi pelakon, bahkan menjadi bagian dari perhelatan hidup yang keras. Mereka pernah jadi pengembala, jadi penunggu musim yang setia, menanam bibit, menanti kapan bulir padi menguning, menanti kapan musim panen tiba, setelah itu memikirkan lagi, kapan musim bercocok tanam tiba.

Saya teringat perkataan Abdul Kamal, tak ada gunanya berpikir pesimis, jadilah pemimpi, yang terus memimpikan apa yang diinginkan, niscaya apa yang kau mimpikan akan terbawa dalam pikiranmu, dan apa yang kau pikirkan akan kau aplikasikan dalam tindakan. Lewat karyanya, “akar saya dari desa, Soeharto seolah menegaskan pada setiap anak bangsa, bahwa lahir dari latar kehidupan pedesaan adalah kebanggaan yang besar, karena dengan latar itu, hidup akan lebih berdinamika. Jika dikenang kehidupan masa kecil di pedesaan memang selalu menarik, indah, romantik, dan natural.

Betapa senangnya mengingat masa-masa kecil di pedesaan, saat musim mainan terus bergulir. Layangan, gasing, dan sebagainya. Terlebih saat musim buah tiba. Musim durian. Langsat, rambutan, dan seterusnya. Ataukah mengenang rutinitas sore, mandi di sungai. Fase-fase yang tentunya, kini sangat susah untuk ditemui di belantara gedung-gedung tinggi di kota.

Adalah wajar, jika pada beberapa tahun silam, selama jadi presiden, Soeharto kerap berkata, dirinya berakar dari desa. Di zaman edan kini, memang desa diibaratkan sebagai benteng pertahanan terakhir dari gerusan budaya-budaya neokapitalis. Ia adalah akar, dimana tertancap kearifan-kearifan lokal, yang mengajari siapapun pernah ada di dalamnya, agar senantiasa bersahaja- meski pada akhirnya begitu banyak orang dari desa, termasuk Soeharto, jadi lalim dan tidak bersahaja.

Nabi Muhammad Saw, selalu dikenal sebagai sosok yang tawwaddu’, dan mengajarkan pada umatnya untuk senantiasa jadi orang-orang yang bersabar, teguh pada ajaran Ilahia dan berjalan di atas kemuliaannya. Berabad-abad yang lalu, lahir pemikir-pemikir dari pinggiran yang kemudian melahirkan gagasan-gagasan sosial yang hingga kini masih disuguhkan di bangku-bangku kuliah. Karl Marx misalnya. Di belahan bumi Eropa, karya Mouzart masih begitu dikenal dalam dunia seni.

***
Sekarang, saya lebih banyak berpikir sebagai orang beruntung. Dibanding manusia-manusia terpinggirkan di kolong jembatan sana. Begitu banyak yang tidak beruntung, hidup dalam kemalangan, setiap hari mereka bergulat memperjuangkan hidupnya, haknya untuk sekadar tidur nyenyak. Mengapa kita mesti pesimis, sementara masih banyak orang yang begitu optimis akan mampu mendapatkan haknya untuk tidur di tepi-tepi jalan. Bersyukurlah saya yang masih diberi ruang untuk dapat tidur nyenyak di kota ini, dan masih makan tiga kali sehari.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Kendati kau telah lahir sekitar 27 tahun lalu, tapi ijinnkan saya mengatakan, kau memang laki-laki luar biasa adn mampu merengkuh keinginanmu dengan prinsip yang kau jalani sendiri. Lelaki hebat yang lahir setiap 100 tahun sekali...